Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan

0 Empat Kiat Mengatasi Bibir Kering dan Pecah-pecah

Selasa, 03 Mei 2011 Label:

Jika Anda tinggal di kota yang udaranya dingin, atau menghabiskan banyak waktu di tempat ber-AC, bibir pecah-pecah adalah salah satu masalah yang kerap muncul. Tapi jangan khawatir, kami tahu cara mengatasinya.



1. Jangan menjilat bibir
Air liur menguap denga cepat dari bibir, dan ini akan menyebabkan bibir kita menjadi semakin kering. Jika Anda memiliki kebiasaan menjilat bibir, hindari penggunaan lipbalm rasa buah. Pilihlah yang pahit agar Anda tak tergoda.

2. Selalu sedia lip balm
Jangan pernah tinggalkan lip balm alias pelembab bibir. Bawalah ke mana pun Anda pergi, dan oleskan ke bibir dan sekitarnya saat sudah mulai terasa kering. Pelembab bibir yang paling baik adalah yang mengandung beeswax, shea butter, dan SPF untuk melindungi bibir dari paparan sinar matahari.

3. Ritual sebelum tidur
Jangan hanya menggosok gigi, mencuci muka, dan memakai pelembab sebelum tidur. Agar bibir tetap sehat, indah, dan terhindar dari kekeringan, biasakan melakukan ritual ini setiap malam sebelum tidur. Ambil handuk kecil, dan basahi dengan air hangat. Lalu gosokkan handuk basah tersebut perlahan-lahan pada bibir untuk mengelupas kulit mati penyebab bibir pecah-pecah. Setelah terasa halus, oleskan pelembab bibir. Pelembab ini akan bekerja menutrisi bibir selama kita tidur.

4. Banyak minum
Anda pasti sudah tahu bahwa kita harus minum setidaknya delapan gelas air putih setiap hari, kan? Bibir yang kering adalah salah satu cara tubuh memberi sinyal bahwa ia kekurangan cairan. Jadi, jangan hanya melembabkan dari luar (dengan cara mengoles lip balm), tapi lembabkan juga dari dalam dengan bantuan air mineral.
Read more

0 Waspadai Penyakit Baru Yang Menular

Sabtu, 27 November 2010 Label:
Istanaartis.com Penyakit menular yang baru muncul (PMBM) atau emerging infectious diseases (EID), mempunyai potensi menimbulkan wabah, kerugian ekonomi, dan kekacauan sosial yang hebat.
Ancaman penyakit tersebut sekitar 70 persen berasal dari penyakit hewan, misalnya SARS, nipah, flu burung, dan flu babi. Hal ini diperberat karena Indonesia juga menghadapi penyakit menular bersumber binatang lainnya, seperti malaria, demam berdarah, filariasis (kaki gajah), serta rabies. Selain itu, ada juga penyakit menular langsung seperti diare, cacingan, dan kusta.
Menurut Menteri Kesehatan (Menkes) Endang Rahayu Sedyaningsih, kesehatan merupakan hak asasi setiap insan Indonesia dan pemenuhannya merupakan tanggung jawab negara.
”Seluruh masyarakat termasuk peternak unggas, perlu dilindungi dari berbagai penyakit, terutama penyakit yang dapat menimbulkan wabah dan pandemi,” ujarnya ketika membuka Rakernas Gerakan Nasional Peternak Sehat Ternak Sehat (PSTS) yang diselenggarakan Himpunan Masyarakat Peternak Unggas Lokal Indonesia (HIMPULI) di Bogor, beberapa waktu lalu.
Rakernas diikuti sekitar 200 anggota HIMPULI dan dihadiri juga oleh Menteri Pertanian (Menpan) Suswono. Endang menerangkan, pengembangan Desa Siaga dengan kegiatan ”Peternak Sehat Ternak Sehat” merupakan model upaya strategis terobosan kegiatan keterpaduan kesehatan masyarakat, kesehatan lingkungan, dan kesehatan ternak di desa. Hal tersebut sesuai dengan kebutuhan masyarakat melalui pendekatan pemberdayaan masyarakat, dengan memanfaatkan sumber daya yang ada di masyarakat dan bantuan pemerintah.
”Gerakan PSTS merupakan terobosan baru yang harus terus diperluas cakupannya ke seluruh Indonesia. Sebagai konsep Satu Kesehatan untuk Indonesia sebagai bagian dari One World One Health,” tutur Endang.
Tujuan gerakan nasional PSTS yaitu meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dan meningkatkan produktivitas ternak. Dengan tujuan khusus, ialah mewujudkan peternakan unggas yang sehat sesuai dengan cara beternak unggas yang baik (Good Farming Practices/GFP).
Selain itu, mewujudkan lingkungan pemukiman yang sehat, serta terselenggaranya penanganan produk hewan yang higienis. Endang mengutarakan, gerakan PSTS merupakan gerakan promosi kesehatan, kebersihan perorangan dan PHBS, deteksi dini, dan respons cepat pada penyakit yang dapat menimbulkan wabah. Selain itu, program tersebut sebagai pemberdayaan masyarakat peternak di bidang kesehatan dan UKBM, penyehatan lingkungan.
Dia menyebutkan, dari 231,83 juta jiwa penduduk Indonesia (Data BPS 2009), 45.24 persen (104,87 juta jiwa) adalah pekerja. Sebagian besar bekerja di sektor pertanian (46 persen), perdagangan (19 persen), industri (12 persen), dan lain-lain. Sektor pertanian meliputi petani, nelayan, peternak, sedangkan pekerja yang bergerak di sektor peternakan unggas (ayam, itik, dan lain-lain) mencapai 5 juta, yang terdiri atas peternak unggas formal dan nonformal yang tersebar di desa-desa.
”Kita ketahui, unggas air termasuk itik atau bebek merupakan ‘carrier’ dan sumber penularan flu burung pada unggas dan manusia,” terang Endang.
Menurut hasil penyelidikan epidemiologi, faktor risiko penularan flu burung kepada manusia 47 persen disebabkan kontak langsung dengan unggas mati mendadak, 41 persen karena kontak dengan lingkungan tercemar, 2 persen disebabkan pupuk, dan 10 persen belum diketahui.
Hal tersebut terjadi karena kurang pengetahuan, kesadaran masyarakat dalam perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), adanya pemeliharaan unggas yang dilepas di halaman rumah (back yard farming), atau pengandangan yang tidak memenuhi syarat kesehatan.
Saat ini selain beredar virus influenza musiman, bersirkulasi pula virus Influenza A Baru (H1N1) yang pernah menimbulkan pandemi pada 2009 dan virus H5N1 yang terdapat di Mesir, China, Vietnam, dan Indonesia.
”WHO dan masyarakat dunia mengkhawatirkan kemungkinan lahirnya virus influenza baru dari hasil perubahan genetik maupun melalui percampuran genetik dari dua virus atau lebih. Virus ini kemungkinan dapat menimbulkan wabah atau pandemi di banyak negara di dunia,” papar Endang.
Read more
 
.: Reggi Vacious :. © 2010 | Designed by Blogger Hacks | Blogger Template by ColorizeTemplates
Back To Top